KOMODIFIKASI AGAMA, GENDER, DAN ANAK DI MEDIA DIGITAL: NEGOSIASI KESALEHAN, IDENTITAS, DAN ETIKA PERLINDUNGAN SUBJEK RENTAN

Penulis

  • Universitas Halim Sanusi Bandung
  • UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kata Kunci:

Komodifikasi Agama, Media Digital, Gender, Anak, Filsafat Komunikasi

Abstrak

Fenomena komodifikasi agama di media digital menandai perubahan mendasar dalam cara nilai-nilai spiritual diproduksi, direpresentasikan, dan dikonsumsi dalam masyarakat kontemporer. Media digital tidak hanya berfungsi sebagai saluran komunikasi keagamaan, tetapi juga sebagai ruang ekonomi simbolik yang tunduk pada logika algoritma dan kapitalisme platform. Dalam konteks ini, agama berpotensi bergeser dari pengalaman transendental menuju performa visual yang diukur melalui popularitas, atensi, dan nilai tukar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komodifikasi agama di media digital dengan menekankan perspektif gender dan anak sebagai subjek yang secara sosial rentan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif kritis-interpretatif melalui penelusuran literatur, observasi kualitatif terhadap konten keagamaan digital, serta analisis tematik-kritis berbasis filsafat komunikasi, teori kritis, dan kajian etika. Hasil kajian menunjukkan bahwa representasi perempuan dan anak dalam konten religius digital sering kali berfungsi sebagai simbol kesalehan yang efektif secara visual, namun berisiko mengalami reduksi makna dan objektifikasi simbolik. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa logika algoritmik mendorong simplifikasi pesan keagamaan dan memperkuat performativitas religius, sehingga dimensi reflektif dan etis agama cenderung terpinggirkan. Meskipun demikian, media digital juga membuka ruang baru bagi partisipasi dan ekspresi keagamaan yang lebih inklusif, sepanjang disertai kesadaran kritis dan tanggung jawab moral. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan etika komunikasi keagamaan digital yang menempatkan martabat manusia, khususnya perempuan dan anak, sebagai prinsip utama dalam menghadapi dinamika kapitalisme digital.

Referensi

Ahmad, R. (2021). Komodifikasi agama di media digital: Perspektif kritis terhadap industri konten keagamaan. Jurnal Komunikasi dan Media, 13(2), 145–160.

Baudrillard, J. (1981). Simulacra and simulation. New York: Semiotext(e).

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Debord, G. (1967). The society of the spectacle. Paris: Buchet-Chastel. Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. New York: Basic Books.

Habermas, J. (1984). The theory of communicative action. Boston: Beacon Press.

Hjarvard, S. (2011). The mediatisation of religion: Theorising religion, media and social change. Culture and Religion, 12(2), 119–135.

Jameson, F. (1991). Postmodernism, or, the cultural logic of late capitalism. Durham: Duke University Press.

Lyotard, J.-F. (1984). The postmodern condition: A report on knowledge. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Mosco, V. (2009). The political economy of communication (2nd ed.). London: SAGE Publications.

Unduhan

Diterbitkan

2025-12-25

Cara Mengutip

Asmarandani Heryadi, Doddy S., & Roro Sri Rejeki. (2025). KOMODIFIKASI AGAMA, GENDER, DAN ANAK DI MEDIA DIGITAL: NEGOSIASI KESALEHAN, IDENTITAS, DAN ETIKA PERLINDUNGAN SUBJEK RENTAN. An Nisa’, 18(2), 48–55. Diambil dari https://jurnal.iain-bone.ac.id/index.php/annisa/article/view/11165

Terbitan

Bagian

Artikel