EKSISTENSI PENYULUH AGAMA SEBAGAI AGEN MODERASI BERAGAMA DI ERA KEMAJEMUKAN MASYARAKAT INDONESIA

Ayu Aspila* -  Institut Agama Islam Negeri Bone, Indonesia
Baharuddin B -  Institut Agama Islam Negeri Bone, Indonesia

Peran penyuluh agama dalam masyarakat sangat penting karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan sosok tokoh yang ideal untuk di jadikan sebagai tokoh agama dalam kehidupan masyarakat. Penyuluh agama bertugas sebagai agen moderasi, penjaga moral, dan penjaga akidah serta akhlak masyarakat. Tugas penyuluh agama tidak semata-mata hanya melaksanakn penyuluhan agama dalam arti sempit seperti pengajian atau ceramah saja, akan tetapi seluruh kegiatan baik berupa bimbingan maupun pengembangan.

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research) dengan pendekatan kualitatif, di mana peneliti menggunakan sumber kepustakaan untuk memperoleh data penelitiannya. Adapun teknik data dilakukan dalam mengumpulkan data literatur yang terdiri dari bahan atau kajian pustaka yang berhubungan atau sesuai dengan objek pembahasan yang dimaksud. Analisis datanya menggunakan content analisis (analisis isi), jenis analisis data yang berfokus pada satu bagian informasi yang tertulis atau tercetak di antara sejumlah besar sumber data.

Moderasi beragama yang ramah, toleran, terbuka, fleksibel dapat menjadi jawaban terhadap kekhawatiran konflik yang marak terjadi di tengah masyarakat mulkultural. Moderasi beragama tidak berarti bahwa mencampuradukkan kebenaran dan menghilangkan jati diri masing-masing. Sikap moderasi tidak menistakan kebenaran, kita tetap memiliki sikap yang jelas dalam suatu persoalan, tentang kebenaran, tentang hukum suatu masalah, namun dalam moderasi beragama, kita lebih pada sikap keterbukaan menerima bahwa diluar diri kita ada saudara sebangsa yang juga memiliki hak yang sama dengan kita sebagai masyarakat yang berdaulat dalam bingkai kebangsaan. Masing-masing orang memiliki keyakinan di luar keyakinan atau agama yang mesti kita hormati dan akui keberadaannya, untuk itu kita perlu terus menerus bertindak dan beragama dengan cara moderat. Penyuluh agama selaku aparatur Kementerian Agama memiliki peran strategis berkaitan dengan tugas, tanggung jawab, dan wewenang penyuluh agama untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan agama dan pembangunan melalui bahasa agama. Peran tersebut selaras dengan tujuan penyuluhan agama agar setiap warga negara dapat merefleksikan dan mengaktualisasikan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan disertai wawasan multikultur.

  1. Akhmadi, Agus. 2019. Moderasi Beragama Dalam Keragaman Indonesia Religious Moderation In Indonesia’s Diversity. Jurnal Diklat Keagamaan, Vol. 13, no. 2, Pebruari - Maret 2019.
  2. Bidang Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat dan Pemberdayaan Masjid.2010. Pedoman dan Teknis Penyuluh Agama Islam Fungsional Jilid I &II. Bandung: Kementrian Agama Kantor Wilayah Provinsi Jawa Barat.
  3. Hasanah, Uswatun, and Nurul Fadilah. 2022. “Educative And Consultative Role Of Islamic Counselor In Crime-Prone Area for A Harmony In Community.” Jurnal Ilmiah Al-Jauhari: Jurnal Studi Islam Dan Interdisipliner 7, no. 1.
  4. Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam Kelas V-D Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gnung Djati Bandung. Penyuluhan Agama Dalam Kemodernan dan Kebhinekaan. t.c; D’revolutionary, 2020/2021.
  5. Mas’ud. A. 2018. Strategi Moderasi Antarumat Beragama. Kompas: Jakarta.
  6. Mazid, Sukron, Rumawi, Wahyu Prabowo, and Solihul Hakim.2021. Peran Penyuluh Agama Islam Dalam Pelayanan Pembangunan Mental Spritual Masyarakat di Era Pandemi Covid-19. Journal of Public Administration and Local Governance 5. No.1.
  7. Nugraha. 2008. Wawasan Multikultural. Bandung: BDK Bandung.
  8. Kemenag, Tanya Jawab Moderasi Beragama. Badan Litban dan Diklat Kementrian Agama RI, 2019.
  9. Paelani Setia.2021. Kampanye Moderasi Beragama Dari Tradisional Menuju Digital. Cet.1; Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati: Bandung.
  10. Rachmadhani, Arnis. 2015. Penyuluhan Agama Bagi Komunitas Masyarakat Adat Kejawen Di Kabupaten Banyumas. Jurnal Komunikasi PROFETIK. Vol. 08, No.01.
  11. Scwartz, S.2007. Dua Wajag Islam: moderatisme vs fundamentalisme dalam wacana global.Belantika: Jakarta.
  12. Yunus, and Mukhoyyaroh. 2022. Peran Penyuluh Agama Islam Dalam Membangun Harmonisasi Keberagamaan Pada Masyarakat Toraja.” Jurnal Penyuluhan Agama 4, no. 1.

Full Text:
Article Info
Submitted: 2022-12-08
Published: 2022-12-08
Section: Articles
Article Statistics: 684 1912