Eksplorasi etnomatematika dalam adat perhitungan mahar pernikahan masyarakat Buton

Herno Herno* -  Universitas Muslim Buton, Indonesia

DOI : 10.30863/ekspose.v1i1.1349

Education and culture are something that cannot be separated in everyday life. Ethnomatematics is here to bridge culture and education, especially in learning mathematics. This study aims to describe the ethnomatematics contained in the custom of calculating the marriage dowry, the Butonese. This type of research is exploratory research using an ethnographic approach. Based on the results of the research obtained, there are special ways in which the Butonese people carry out mathematical activities. It is proven that there is an ethno-mathematical form in the calculation of the dowry of the Butonese marriage which is reflected through the various results of mathematical activities that are owned and developed in the Buton community, including the concept of fractions and averages related to the amount of bakena kau and kabintingia katolosina which are distributed to invited guests who attend the ceremony. tauraka evenly, the concept of comparison related to the difference in the amount of dowry for the kaomu and walaka groups, the concept of the percentage related to the amount of fee for services for customary introducers (tolowea), and the concept of unit conversion.

Pendidikan dan budaya adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Etnomatematika hadir untuk menjembatani antara budaya dan pendidikan khususnya dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan etnomatematika yang terdapat dalam adat perhitungan mahar pernikahan, masyarakat Buton. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, terdapat cara-cara khusus pada masyarakat Buton dalam melakukan aktivitas matematika. Terbukti adanya bentuk etnomatematika pada perhitungan mahar pernikahan masyarakat Buton yang tercermin melalui berbagai hasil aktivitas matematika yang dimiliki dan berkembang di masyarakat Buton, meliputi konsep pecahan dan rata-rata yang terkait dengan besaran bakena kau dan katolosina kabintingia yang dibagikan kepada tamu undangan yang hadir dalam upacara tauraka secara merata, konsep perbandingan yang terkait dengan perbedaan jumlah besaran mahar bagi golongan kaomu dan walaka, konsep persentase yang terkait dengan jumlah besaran uang imbalan jasa untuk para pengantar adat (tolowea), dan konsep konversi satuan.

Keywords
Etnomatematika; Adat; Perhitungan Mahar; Pernikahan; Buton
  1. Bahar, L.M.R. 2011. Akulturasi Budaya Orang Buton. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2016 pada http://ujungangin.blogspot.co.id/2011/03/akulturasi-budaya-masyarakat-buton_06.html?m=1.
  2. D’Ambrosio, U. 1985. Ethnomathematics and its place in the history and pedagogy of mathematics. For the Learning of Mathematics. 5(1). 44-48.
  3. Dyastriningrum. 2009. Antropologi Kelas XI untuk SMA dan MA Program Bahasa. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  4. Ibrahim. 2015. Metodologi Penelitian Kualitatif. Pontianak: Perpustakaan Nasional.
  5. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Eksplorasi. Diakses pada tanggal 9 Januari 2017 pada http://www.google.co.id/amp/s/kbbi.web.id/eksplorasi.html.
  6. Manik, D. R. 2009. Penunjang Belajar Matematika Untuk SMP dan MTs Kelas 7. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  7. Munafi, L. A., dkk. 2015. Kebudayaan Buton. Baubau: Bappeda kota Baubau.
  8. Muzdalipah, I. 2014. Studi Etnomatematika: Eskplorasi Teknik Menghitung Benih Ikan Ala Peternak Sunda. Vol 1 No 1.
  9. Rachmawati, I. 2012. Eksplorasi Etnomatematika Masyarakat Sidoarjo. E-Jurnal Unesa. Vol 1 No 1.
  10. Raco, J. R. 2010. Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik, Dan Keunggulannya. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
  11. Rakhmawati, R. 2016. Aktivitas Matematika Berbasis Budaya pada Masyarakat Lampung. Jurnal Pendidikan Matematika. Vol. 7, No. 2. 221 – 230.
  12. Rosa, M. & Orey, D. C. 2011. Ethnomathematics: the cultural aspects of mathematics. Revista Latinoamericana de Etnomatemática. Vol 4 No 2. 32-54.
  13. Rumeksa, P. N. & Saftyaningsih, K. A. 2017. Eksplorasi serat kapuk (caiba pentandra) dengan teknik tenun atbm dan kempa. Jurnal tingkat sarjana bidang senirupa dan desain. Vol. 1 No. 1.
  14. Siany, L. & Catur, A. 2009. Khazanah Antropologi 1 untuk Kelas XI SMA dan MA. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  15. Sutardi, T. 2009. Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Bahasa. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
  16. Wahyuni, I. 2016. Eksplorasi Etnomatematika Masyarakat Pesisir Selatan Kecamatan Puger Kabupaten Jember. Fenomena, Vol. 15 No. 2. 228.
  17. Wikipedia. Eksplorasi. Diakses pada tanggal 9 Januari 2017 pada http://id.m.wikipedia.org/wiki/Eksplorasi.
  18. Zulkifli, M. & Dardiri, N. 2016. Etnomatematika dalam Sistem Pembilangan Pada Masyarakat Melayu Riau. Kutubkhanah: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol.19. 220-238.

Full Text:
Article Info
Submitted: 2021-04-21
Published: 2021-08-12
Section: Artikel
Article Statistics: 62 159