Esoterisme Pemikiran Gender Nasaruddin Umar

Muhammad Rusydi* -  , Indonesia

DOI : 10.30863/annisa.v12i2.670

Esotericism in Gender Thought Nasaruddin Umar

The dimension of esotericism in Nasaruddin Umar's gender thinking has become a style of gender thinking that is very possible to be transformed as a strategy of gender mainstreaming in the current era. The issue of gender equality expressed in its gender thinking refers to a variety of esoteric dimensions by combining the concepts of nature and form so that dependence on the text does not trap in an interpretation that is embedded in the structure of the text itself. With the esotericism of gender thinking that he developed, understanding gender issues that are more accommodating to the philosophical values of Sufism leads him to elaborate a lot of the nature of human creation as God's noble and glorified creation without having to be suppressed with issues of gender injustice.

Abstrak

Dimensi esoterisme dalam pemikiran gender Nasaruddin Umar telah menjadi gaya berpikir gender yang sangat mungkin untuk ditransformasikan sebagai strategi pengarusutamaan gender di era saat ini. Masalah kesetaraan gender yang diekspresikan dalam pemikiran jender mengacu pada berbagai dimensi esoteris dengan menggabungkan konsep-konsep alam dan bentuk sehingga ketergantungan pada teks tidak menjebak dalam interpretasi yang tertanam dalam struktur teks itu sendiri. Dengan esoterisme pemikiran gender yang ia kembangkan, memahami isu-isu gender yang lebih akomodatif terhadap nilai-nilai filosofis tasawuf menuntunnya untuk menguraikan banyak sifat ciptaan manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia dan mulia tanpa harus ditekan dengan masalah gender ketidakadilan.

 

Keywords
Esoterisme; Gender; Nasaruddin umar
  1. Agama, D. (2009). Al-Qur’an dan terjemahan. Jakarta: PT Sinergi Pustaka.
  2. Black, N. (2019). Social feminism. New York: Cornell University Press.
  3. Effendi, P., & Ratnasari, D. (2018). Kesetaraan gender dalam prespektif undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Jurnal Pro Hukum: Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik, 7(2).
  4. Hermanto, A. (2017). Islam, perbedaan dan kesetaraan gender. Nizham Journal of Islamic Studies, 5(1), 31–49.
  5. Janah, N. (2017). Telaah buku argumentasi kesetaraan gender perspektif al-qur’an karya nasaruddin umar. Sawwa: Jurnal Studi Gender, 12(2), 167–186.
  6. Kumalasari, B., Herawati, T., & Simanjuntak, M. (2018). Relasi gender, tekanan ekonomi, manajemen keuangan, strategi nafkah, dan kualitas hidup pada keluarga nelayan. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 11(2), 108–119.
  7. Nasution, A. G. J. (2019). Keseteraan gender tinjauan pendidikan islam. Ihya Al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Arab, 5(1), 48–53.
  8. Prayitno, H., & Qodat, A. (2019). Konsep pemikiran fazlur rahman tentang modernisasi pendidikan islam dan relevansinya terhadap pendidikan islam di indonesia. Al-Fikri: Jurnal Studi Dan Penelitian Pendidikan Islam, 2(2), 30–43.
  9. Rasna, R., & Hidaya, N. (2020). Eksistensi perempuan dalam transformasi sosial (studi di pt. multi usaha raya kabupaten sorong). Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu Sosial, 5(1).
  10. Susanto, E. (2016). Dimensi studi islam kontemporer (1st ed.). Jakarta: Kencana.
  11. Umar, N. (2014). Islam fungsional: revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai keislaman. Jakarta: Gramedia.

Full Text:
Article Info
Submitted: 2020-03-10
Published: 2020-03-10
Section: Artikel
Article Statistics: 67 60