Logika Maqāṣid Al-Syarī‘ah Sebagai Paradigma Kritik Dalam Rekonstruksi Hukum Islam

Authors

  • Suriah Pebriyani Jasmin IAIN BONE
  • Rahmatiah HL UIN Alauddin Makassar
  • Lomba Sultan UIN Alauddin Makassar

DOI:

https://doi.org/10.30863/ekspose.v24i2.10575

Keywords:

Maqashid Al-Syariah, Paradigma Kritik, Rekonstruksi, Hukum Islam

Abstract

Rapid social change and the increasing complexity of modern legal issues have created serious challenges to the relevance and justice of Islamic law in the contemporary era. Many textual provisions of Islamic law often confront dynamic social realities, thereby necessitating a critical paradigm for interpreting and reconstructing the law so that it remains contextual and oriented toward the realization of public welfare (maṣlaḥah). In this context, this research becomes urgent as it explores the logic of maqāṣid al-syarī‘ah as a critical paradigm in the reconstruction of Islamic law. Maqāṣid al-syarī‘ah, which was originally understood as the normative objective of the Sharī‘ah aimed at protecting the five essential human needs (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) religion, life, intellect, lineage, and property has undergone a significant expansion in both meaning and function. In contemporary development, maqāṣid is no longer confined merely to preserving welfare but has evolved into an epistemological and critical framework for assessing the relevance, justice, and benefit of Islamic law in responding to modern social dynamics. By employing a maqāṣid-based approach, Islamic law is no longer rigidly understood through textual formalism but becomes open to reinterpretation in accordance with the principles of justice, welfare, gender equality, and respect for human rights. This study employs a qualitative method using hermeneutical analysis of both classical and modern literature. The rapid social transformation and the emergence of modern legal problems such as child marriage, gender equality, bioethics, environmental issues, and social justice emphasize the urgent need for a new paradigm in understanding Islamic law to ensure its continued relevance and fairness. In this regard, the study situates the logic of maqāṣid al-syarī‘ah as a critical paradigm for reconstructing Islamic law. Originally serving to preserve the five essential human needs (al-ḍarūriyyāt al-khamsah), maqāṣid has now evolved into an epistemological framework capable of critically evaluating and dynamically interpreting Islamic law. Findings from various studies indicate that the application of maqāṣid to contemporary issues demonstrates its potential as a bridge between normative texts and social realities, thus establishing maqāṣid al-syarī‘ah as an essential instrument in developing an Islamic legal system that is adaptive, progressive, humanistic, and contextually grounded

 

Perubahan sosial yang cepat dan kompleksitas persoalan hukum modern menimbulkan tantangan serius bagi relevansi dan keadilan hukum Islam di era kontemporer. Banyak ketentuan hukum Islam yang bersifat tekstual sering kali dihadapkan pada realitas sosial yang dinamis, sehingga menuntut adanya paradigma kritis dalam menafsirkan dan merekonstruksi hukum agar tetap kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan. Dalam konteks inilah, penelitian ini menjadi urgen karena membahas logika maqāṣid al-syarī‘ah sebagai paradigma kritik dalam rekonstruksi hukum Islam. Maqāṣid al-syarī‘ah yang semula dipahami sebagai tujuan normatif syariat untuk melindungi lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta kini mengalami perluasan makna dan fungsi. Pada perkembangan kontemporer, maqāṣid tidak lagi diposisikan sekadar sebagai instrumen pemeliharaan kemaslahatan, melainkan juga sebagai kerangka epistemologis dan kritis untuk menilai relevansi, keadilan, serta kemanfaatan hukum Islam dalam menghadapi dinamika sosial modern. Dengan menggunakan pendekatan maqāṣid, hukum Islam tidak lagi dipahami secara kaku melalui formalisme tekstual, melainkan terbuka terhadap reinterpretasi sesuai prinsip keadilan, kemaslahatan, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis hermeneutik terhadap literatur klasik dan modern.Perubahan sosial dan munculnya problematika hukum modern seperti perkawinan anak, kesetaraan gender, bioetika, lingkungan hidup, dan keadilan sosial menegaskan urgensi paradigma baru dalam memahami hukum Islam agar tetap relevan dan berkeadilan. Dalam konteks ini, penelitian ini menempatkan logika maqāṣid al-syarī‘ah sebagai paradigma kritik dalam rekonstruksi hukum Islam. Maqāṣid yang semula berfungsi menjaga lima kebutuhan pokok manusia (al-ḍarūriyyāt al-khamsah) kini berkembang menjadi kerangka epistemologis yang mampu menilai dan menafsirkan hukum Islam secara lebih dinamis. Hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa penerapan maqāṣid pada isu-isu kontemporer memperlihatkan potensinya sebagai jembatan antara teks normatif dan realitas sosial, sehingga menjadikan maqāṣid al-syarī‘ah instrumen penting dalam membangun hukum Islam yang adaptif, progresif, humanis, dan kontekstual.

References

A Djazuli, Ilmu Ushul Fiqh: Metodologi Penetapan Hukum Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005)

Abdul Moqsith Ghazali, Fiqh Pandemi: Beribadah Di Masa Wabah (Jakarta: Nalar, 2020)

Abdurrahman, Zulkarnain, ‘Teori Maqasid Al-Syatibi Dan Kaitannya Dengan Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Abraham Maslow’, Jumdpi, 22.1 (2020) <https://doi.org/10.24252/jumdpi.v22i1.15534>

Abū Isḥāq al-Shāṭibī, Al-Muwāfaqāt Fī Uṣūl Al-Syarī‘ah, Juz II (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1997)

Ahmad Munif Suratmaputra, Maqashid Syariah Dalam Hukum Islam Dan Implementasinya Di Indonesia (Jakarta: KENCANA, 2019)

Ahmad Munir, ‘Maqāṣid Al-Syarī‘Ah Dan Etika Lingkungan Hidup: Telaah Atas Perlindungan Hifz Al-Bī’Ah Di Indonesia’, Al-Daulah: Jurnal Hukum Dan Perundangan Islam, 9.1 (2023), 55–72

Ahmad, Nurfahiratul A, Ahmad T A Lateh, Imaaduddin A Halim, and Adlan Saidin, ‘Aplikasi Prinsip Maqasid Syariah Dalam Pengurusan Ibadah Korban Pasca Covid 19’, Asian People Journal (Apj), 4.1 (2021), 187–94 <https://doi.org/10.37231/apj.2021.4.1.212>

Al-‘Izz ibn ‘Abd al-Salām, Qawā‘id Al-Aḥkām Fī Maṣāliḥ Al-Anām (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah)

Al-Ghazali, A. H, Ihya Ulum Al-Din (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 1111)

Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid, Al-Mustaṣfā Min ‘Ilm Al-Uṣūl, Juz I (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah)

Al-Juwaynī, Al-Burhān Fī Uṣūl Al-Fiqh, Juz II (Beirut: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah)

Al-Syāṭibī, Al-Muwāfaqāt Fī Uṣūl Al-Syarī‘Ah (Beirut: Dar al-Ma’rifah)

Fazlun Khalid, Islam and the Environmen (Leicester: Islamic Foundation, 2002)

Ibn Manẓūr, Lisān Al-‘Arab, Juz VII (Beirut: Dār Ṣādir, 1993)

Jasser Auda, Maqasid Al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach (London: IIIT)

Mohammad Fadel, ‘Islamic Ethics, Transplantation, and the Maqasid Al-Shari‘Ah,’ Journal of Islamic Ethics, 3.2 (2019), 205–27

Muhammad Hashim Kamali, Shariah Law: An Introduction (Oxford: Oneworld, 2008)

Muḥammad Ṭāhir Ibn ‘Āshūr, Maqāṣid Al-Syarī‘ah Al-Islāmiyyah (Amman: Dār al-Nafā’is)

Musolin, Muhlil, ‘Nilai Maqasid Al Syariah Dalam Pancasila Sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia’, Dialog, 43.1 (2020), 59–74 <https://doi.org/10.47655/dialog.v43i1.346>

Musolli, Musolli, ‘Maqasid Syariah: Kajian Teoritis Dan Aplikatif Pada Isu-Isu Kontemporer’, At-Turas Jurnal Studi Keislaman, 5.1 (2018), 60–81 <https://doi.org/10.33650/at-turas.v5i1.324>

Nurul Huda, ‘“Rekonstruksi Usia Perkawinan Dalam Perspektif Maqāṣid Al-Syarī‘Ah”,’ Jurnal Hukum Keluarga Islam, 12.2 (2020), 145–62

Rahmatillah, Nor A, Syahrul M Subeitan, and Fatum Abubakar, ‘Tradisi Piduduk Dalam Perkawinan Masyarakat Banjar Di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan: Perspektif Maqasid Syariah’, Al-Mujtahid Journal of Islamic Family Law, 3.2 (2023), 102 <https://doi.org/10.30984/ajifl.v3i2.2747>

Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer (Jakarta: KENCANA, 2004)

Syarif, Dafiar, Wawan D Wahyu, Syukawati Syukawati, Wiyan Mailindr, and Elex Sarmigi, ‘Literature Review Riset Peran Maqasyid Syariah Di Perbankan Syariah Indonesia’, Ekobis Syariah, 8.1 (2024), 10 <https://doi.org/10.22373/ekobis.v8i1.20568>

Wahbah az-Zuhayli, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, Jilid 7 (Damaskus: Dar al-Fikr)

———, Uṣūl Al-Fiqh Al-Islāmī, Juz II (Damaskus: Dar al-Fikr, 1986)

Yefrizawati, Idha A Sembiring, Utary M Barus, and T K D Azwar, ‘Penerapan Wasiat Wajibah Dalam Putusan Hakim Pengadilan Agama (Studi Di Pengadilan Agama Medan Dan Pengadilan Agama Binjai)’, Jurnal Mercatoria, 15.2 (2022), 151–59 <https://doi.org/10.31289/mercatoria.v15i2.6550>

Yusuf al-Qaradawi, Fiqh Al-Ḥalāl Wa Al-Ḥarām Fī Al-Islām (Kairo: Maktabah Wahbah)

Yusuf Al-Qardawi, Fiqh Al-Hayāh: Fiqh Al-Tibb Wa Al-Bi’ah (Kairo: Dar al-Shuruq)

Ziba Mir-Hosseini, Muslim Legal Tradition and the Challenge of Gender Equality,” in Gender and Equality in Muslim Family Law, Ed. Z. Mir-Hosseini et Al (London: I.B. Tauris, 2013)

Downloads

Published

2025-11-22

Issue

Section

Articles